BPJS Kesehatan BPJS Mandiri

Daftar Penyakit yang Tidak Ditanggung dan yang Ditanggung BPJS Kesehatan

Pemerintah meluncurkan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dalam upaya membantu meningkatkan aksesibilitas dan pelayanan kesehatan bagi masyarakat Indonesia. Sistem pembayaran jaminan kesehatan (BPJS) ini dilakukan dengan cara iuran perbulan dan sangat wajib diikuti oleh seluruh masyarakat Indonesia. Walaupun program jaminan sosial ini merupakan bentukan pemerintah, namun masih banyak biaya operasi dan kondisi medis yang dapat ditanggung BPJS dan Kartu Indonesia Sehat (KIS).

Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No. 28 Tahun 2014 telah mengatur semua daftar penyakit dan operasi yang dapat ditanggung oleh BPJS Kesehatan. Jika Anda salah satu pengguna fasilitas BPJS sangat disarankan mengetahui dan memahami daftar penyakit dan operasi yang dapat ditanggung untuk menghindari keberatan dalam biaya perawatan.

penyakit yang tidak ditanggung bpjs

Semua daftar penyakit dan operasi yang ditanggung oleh BPJS Kesehatan telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No. 28 Tahun 2014. Sangat disarankan bagi pengguna jaminan kesehatan BPJS untuk memahami daftar penyakit dan operasi yang dapat ditanggung untuk menghindari keberatan biaya perawatan. Mengenai apa saja jenis penyakit dan operasi yang dapat diklaim menggunakan BPJS silakan cek penjelasan di bawah ini.

Anda yang sudah terdaftar sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) mungkin pernah sesekali atau sering bertanya, adakah penyakit atau jenis operasi yang tidak ditanggung BPJS Kesehatan? Pertanyaan seperti ini kerap menjadi hal umum yang sering terlintas dalam pikiran para pengguna BPJS yang hendak memanfaatkan layanan kesehatan yang diresmikan pada 31 Desember 2013 ini.

Anda yang jadi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tentu pernah sekali atau beberapa kali bertanya-tanya, adakah penyakit yang tidak ditanggung BPJS Kesehatan? Pertanyaan semacam ini sering banget muncul ketika Anda, anggota keluarga, teman, atau kerabat jatuh sakit dan hendak memanfaatkan layanan kesehatan dari pemerintah ini. Tentu pertanyaan itu menjadi hal wajar, sebab siapapun berharap kartu BPJS yang dimiliki dapat digunakan sebagai jalan meringankan pengobatan penyakit yang diderita.

Pertama-tama mari pahami penjelasan mengenai pelayanan kesehatan dan penyakit yang tidak ditanggung BPJS Kesehatan.

Perlu Anda ketahui bahwa dalam penggunaan kartu BPJS tidak disebutkan secara spesifik oleh pemerintah tentang penyakit yang tidak ditanggung maupun penyakit yang ditanggung. Namun, teknisnya mungkin sama dengan penggunaan layanan asuransi kesehatan konvensional. Ada beberapa jenis penyakit yang tidak dijamin oleh asuransi sosial ini.

Tertuang dalam pasal 52 Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan, disebutkan soal deretan manfaat kesehatan yang tidak dijamin oleh BPJS Kesehatan. Maka dari itu, tidak hanya mencakup penyakit uum dan penyakit kritis saja, teknis klaim juga meliputi semua jenis pelayanan kesehatan. berikut ini daftar layanan kesehatan yang tidak ditanggung oleh BPJS

  1. Pelayanan kesehatan yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Mungkin diantara Anda masih ada yang belum paham maksud dari pernyataan ini. Contoh dari poin ini misalnya rujukan atas permintaan sendiri dan pelayanan kesehatan lain yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
  2. Pelayanan kesehatan yang dilakukan di Fasilitas Kesehatan yang tidak bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, kecuali dalam keadaan darurat.
  3. Pelayanan kesehatan terhadap penyakit atau cedera akibat Kecelakaan Kerja atau hubungan kerja yang telah dijamin oleh program jaminan Kecelakaan Kerja atau menjadi tanggungan Pemberi Kerja.
  4. Pelayanan kesehatan yang dijamin oleh program jaminan kecelakaan lalu lintas yang bersifat wajib sampai nilai yang ditanggung oleh program jaminan kecelakaan lalu lintas sesuai hak kelas rawat Peserta. (misalnya program jaminan kecelakaan lalu lintas dari PT. Jasa Raharja)
  5. Pelayanan kesehatan yang dilakukan di luar negeri.
  6. Pelayanan kesehatan untuk tujuan estetik.
  7. Pelayanan kesehatan untuk mengatasi infertilitas.
  8. Pelayanan meratakan gigi atau ortodonti.
  9. Gangguan kesehatan/ penyakit akibat ketergantungan obat dan/ atau alkohol.
  10. Gangguan kesehatan akibat sengaja menyakiti diri sendiri atau akibat melakukan hobi yang membahayakan diri sendiri.
  11. Pengobatan komplementer, alternatif, dan tradisional, yang belum dinyatakan efektif berdasarkan penilaian teknologi kesehatan.
  12. Pengobatan dan tindakan medis yang dikategorikan sebagai percobaan atau eksperimen. 
  13. Alat dan obat kontrasepsi, kosmetik.
  14. Perbekalan kesehatan rumah tangga.
  15. Pelayanan kesehatan akibat bencana pada masa tanggap darurat, kejadian luar biasa/ wabah.
  16. Pelayanan kesehatan pada kejadian tak diharapkan yang dapat dicegah.
  17. Pelayanan kesehatan yang diselenggarakan dalam rangka bakti sosial.
  18. Pelayanan kesehatan akibat tindak pidana penganiayaan, kekerasan seksual, korban terorisme, dan tindak pidana perdagangan orang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
  19. Pelayanan kesehatan tertentu yang berkaitan dengan Kementerian Pertahanan, Tentara Nasional Indonesia, dan Kepolisian Negara Republik Indonesia.
  20. Pelayanan lainnya yang tidak ada hubungan dengan Manfaat Jaminan Kesehatan yang diberikan.
  21. Pelayanan yang sudah ditanggung dalam program lain.
Baca juga :  Fungsi BPJS Kesehatan Bagi Masyarakat

Itulah daftar pelayanan kesehatan yang tidak ditanggung program BPJS Kesehatan. tentunya semua daftar itu dibuat tidak bertujuan untuk membatasi penggunaan BPJS Kesehatan, justru agar BPJS kesehatan benar-benar digunakan dalam kondisi yang memang diperlukan dan bijak dalam penggunaan layanan kesehatan ini. Sebab sumber dana BPJS Kesehatan adalah hasil iuran gotong royong seluruh masyarakat indonesia yang tergabung dalam keanggotaan, sehingga diharapkan pemanfaatannya dapat tepat sasaran.

Berikutnya, silakan pahami tentang jenis penyakit dan operasi yang dapat ditanggung BPJS kesehatan. Hak yang dimiliki setiap peserta BPJS kesehatan adalah mendapatkan manfaat jaminan kesehatan yang meliputi pelayanan promotif, preventif (pencegahan), kuratif (pengobatan), dan rehabilitatif. Di antara pelayanan itu juga termasuk pelayanan obat, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai sesuai kebutuhan medis yang diperlukan

Berdasarkan Pasal 47 Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan, untuk pelayanan kesehatan tingkat pertama (Faskes Tingkat I), peserta berhak atas pelayanan kesehatan yang terdiri atas:

  • Administrasi pelayanan
  • Pelayanan promotif dan preventif
  • Pemeriksaan, pengobatan, dan konsultasi medis
  • Tindakan medis non spesialistik, baik operatif maupun non operatif
  • Pelayanan obat, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai
  • Pemeriksaan penunjang diagnostik laboratorium tingkat pertama
  • Rawat inap tingkat pertama sesuai dengan indikasi medis

Lalu untuk pelayanan kesehatan rujukan di fasilitas kesehatan tingkat lanjutan, peserta berhak atas pelayanan kesehatan sebagai berikut :

  • Administrasi pelayanan
  • Pemeriksaan, pengobatan, dan konsultasi medis dasar. Pelayanan ini hanya berlaku untuk pelayanan kesehatan pada unit gawat darurat.
  • Pemeriksaan, pengobatan, dan konsultasi spesialistik
  • Tindakan medis spesialistik, baik bedah maupun non bedah sesuai dengan indikasi medis
  • Pelayanan obat, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai. Alat kesehatan yang dimaksud mencakup seluruh alat kesehatan yang digunakan dalam rangka penyembuhan, termasuk alat bantu kesehatan.
  • Pemeriksaan penunjang diagnostik lanjutan sesuai dengan indikasi medis
  • Rehabilitasi medis
  • Pelayanan darah
  • Pemulasaran jenazah peserta yang meninggal di fasilitas kesehatan
  • Pelayanan keluarga berencana
  • Perawatan inap non intensif
  • Rawat inap di ruang intensif

Hal lainnya yang juga termasuk kedalam fasilitas pelayanan kesehatan BPJS yaitu peserta BPJS Kesehatan juga berhak memperoleh pelayanan ambulans darat atau air. Hanya saja pelayanan ini digunakan untuk peserta atau pasien dengan rujukan dan kondisi tertentu yang bertujuan untuk menjaga kestabilan kondisi dan keselamatan pasien.

Daftar Penyakit yang ditanggung BPJS Kesehatan

Anda tentu sudah mengetahui proses teknis yang harus dilalui sebelum mendapatkan pelayanan kesehatan, yaitu mendatangi fasilitas kesehatan tingkat I seperti puskesmas maupun klinik swasta terlebih dahulu. Sehingga Anda yang sakit tidak serta merta bisa langsung ke rumah sakit sebab jika penyakit yang diderita relatif ringan masih bisa ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama.

penyakit yang tidak ditanggung bpjs
MALANG, 8/12 – GRATIS BIAYA PUSKESMAS. Seorang tenaga medis memeriksa tekanan darah seorang pasien di ruang Poli Gigi, Puskesmas Kendalkerep, Malang, Jawa Timur, Selasa (8/12).Mulai awal tahun 2010, Pemprov Jatim akan menggratiskan biaya di semua puskesmas di provinsi tersebut untuk membantu warga miskin memperoleh layanan kesehatan FOTO ANTARA/Ari Bowo Sucipto/Koz/hp/09.

Berikut ini adalah daftar penyakit-penyakit yang dijamin BPJS dan dapat ditangani di Faskes tingkat I.

  1. Kejang Demam
  2. Tetanus
  3. HIV AIDS tanpa komplikasi
  4. Tension headach
  5. Migren
  6. Bell’s Palsy
  7. Vertigo (Benign paroxysmal positional Vertigo)
  8. Gangguan somatoform
  9. Insomnia
  10. Benda asing di konjungtiva
  11. Konjungtivitis
  12. Pendarahan subkonjungtiva
  13. Mata kering
  14. Bleafaritis
  15. Hordeolum
  16. Trikiasis
  17. Episkleritis
  18. Hipermetropia ringan
  19. Miopia ringan
  20. Astigmatism ringan
  21. Presbiopia
  22. Buta Senja
  23. Otitis eksterna
  24. Otitis Media Akut
  25. Serumen prop
  26. Mabuk perjalanan
  27. Furunkel pada hidung
  28. Rhinitis akut
  29. Rhinitis vasomotor
  30. Benda asing
  31. Epistaxis
  32. Infulenza
  33. Pertutis
  34. Faringitis
  35. Tonsilitis
  36. Laringitis
  37. Asma bronchiale
  38. Bronchitis akut
  39. Pneumonia, bronkopneumonia
  40. Tuberkulosis paru tanpa komplikasi
  41. Hipertensi esensial
  42. Kandidiasis mulut
  43. Ulkus mulut (aptosa, herpes)
  44. Parotitis
  45. Infeksi pada umbilikus
  46. Gastritis
  47. Gastroenteritis (termasuk kolera, giardiasis)
  48. Refluks gastroesofagus
  49. Demam tifoid
  50. Intoleransi makanan
  51. Alergi makanan
  52. Keracunan makanan
  53. Penyakit cacing tambang
  54. Strongyloidiasis
  55. Askariasis
  56. Skistosomiasis
  57. Taeniasis
  58. Hepatitis A
  59. Disentri basiler, disentri amuba
  60. Hemoroid grade ½
  61. Infeksi saluran kemih
  62. Gonore
  63. Pielonefritis tanpa komplikasi
  64. Fimosis
  65. Paraphimosis
  66. Sindroma duh (discharge) genital (Gonore dan non gonore)
  67. Infeksi saluran kemih bagian bawah
  68. Vulvitis
  69. Vaginitis
  70. Vaginosis bakterialis
  71. Salphingitis
  72. Kehamilan normal
  73. Aborsi spontan komplit
  74. Anemia defisiensi besi pada kehamilan
  75. Ruptur perineum tingkat ½
  76. Abses folikel rambut/kel sebasea
  77. Mastitis
  78. Cracked nipple
  79. Inverted nipple
  80. DM tipe 1
  81. DM tipe 2
  82. Hipoglikemia ringan
  83. Malnutrisi energi protein
  84. Defisiensi vitamin
  85. Defisiensi mineral
  86. Dislipidemia
  87. Hiperurisemia
  88. Obesitas
  89. Anemia defisiensi besi
  90. Lymphadenitis
  91. Demam dengue, DHF
  92. Malaria
  93. Leptospirosis (tanpa komplikasi)
  94. Reaksi anafilaktik
  95. Ulkus pada tungkai
  96. Lipoma
  97. Veruka vulgaris
  98. Moluskum kontagiosum
  99. Herpes zoster tanpa komplikasi
  100.  Morbili tanpa komplikasi
  101. Varisela tanpa komplikasi
  102. Herpes simpleks tanpa komplikasi
  103. Impetigo 105. Impetigo ulseratif (ektima)
  104. Folikulitis superfisialis
  105. Furunkel, karbunkel
  106. Eritrasma
  107. Erisipelas
  108. Skrofuloderma
  109. Lepra
  110. Sifilis stadium 1 dan 2
  111. Tinea kapitis
  112. Tinea barbaeTinea fasialis
  113. Tinea corporis
  114. Tinea manus
  115. Tinea unguium
  116. Tinea cruris
  117. Tinea pedis
  118. Pityriasis versicolor
  119. Candidiasis mucocutan ringan
  120. Cutaneus larva migran
  121. Filariasis
  122. Pedikulosis kapiti
  123. Pediculosis pubis
  124. Scabies
  125. Reaksi gigitan serangga
  126. Dermatitis kontak iritan
  127. Dermatitis atopik (kecuali recalcitrant)
  128. Dermatitis numularis
  129. Napkin eczema
  130. Dermatitis seboroik
  131. Pitiriasis rosea
  132. Acne vulgaris ringan
  133. Hidradenitis supuratif
  134. Dermatitis perioral
  135. Miliaria
  136. Urtikaria akut
  137. Eksantema Plus drug eruption, fixed drug eruption
  138. Vulnus laseratum, punctum
  139. Luka bakar derajat 1 dan 2
Baca juga :  Cara Cek Tagihan di bpjs-kesehatan.go.id

Selain itu, pelayanan gawat darurat juga menjadi bagian yang ditanggung BPJS di setiap fasilitas kesehatan, baik yang menjalin kerjasama ataupun yang tidak menjalin kerjasama dengan BPJS Kesehatan dengan catatan pasien memenuhi kriteria gawat darurat seperti :

1.     Kondisi yang mengancam nyawa peserta

2.     Kondisi yang membahayakan diri dan orang lain

3.     Adanya gangguan pada jalan nafas dan sirkulasi

4.     Penurunan kesadaran

5.     Gangguan hemodinamik

Selengkapnya berikut adalah daftar lengkap penyakit atau diagnosa kondisi dengan kriteria gawat darurat :

A.    Bagian Anak

  1. Anemia sedang / berat
  2. Apnea / gasping
  3. Bayi ikterus, anak ikterus
  4. Bayi kecil/ premature
  5. Cardiac arrest / payah jantung
  6. Cyanotic Spell (penyakit jantung)
  7. Diare profis (> 10/hari) disertai dehidrasi ataupun tidak
  8. Difteri
  9. Ditemukan bising jantung, aritmia
  10. Edema / bengkak seluruh badan
  11. Epistaksis, tanda pendarahan lain disertai febris
  12. Gagal ginjal akut
  13. Gangguan kesadaran, fungsi vital masih baik
  14. Hematuria
  15. Hipertensi Berat
  16. Hipotensi / syok ringan s/d sedang
  17. Intoksikasi (minyak tanah, baygon) keadaan umum masih baik
  18. Intoksikasi disertai gangguan fungsi vital (minyak tanah, baygon)
  19. Kejang disertai penurunan kesadaran
  20. Muntah profis (> 6 hari) disertai dehidrasi atau tidak
  21. Panas tinggi >400 C
  22. Sangat sesak, gelisah, kesadaran menurun, sianosis ada retraksi hebat (penggunaan otot pernafasan sekunder)
  23. Sesak tapi kesadaran dan keadaan umum masih baik
  24. Shock berat (profound) : nadi tidak teraba tekanan darah terukur termasuk DSS.
  25. Tetanus
  26. Tidak kencing > 8 jam
  27. Tifus abdominalis dengan komplikasi

B.    Bagian Bedah

  1. Abses cerebri
  2. Abses submandibula
  3. Amputasi penis
  4. Anuria
  5. Appendicitis acute
  6. Atresia ani (tidak bisa BAB sama sekali)
  7. BPH dengan retensi urin
  8. Cedera kepala berat
  9. Cedera kepala sedang
  10. Cedera tulang belakang (vertebral)
  11. Cedera wajah dengan gangguan jalan nafas
  12. Cedera wajah tanpa gangguan jalan nafas, antara lain :
  13. a. Patah tulang hidung/nasal terbuka dan tertutup
  14. b. Patah tulang pipi (zygoma) terbuka dan tertutup
  15. c. Patah tulang rahang (maxilla dan mandibula) terbuka dan tertutup
  16. d. Luka terbuka daerah wajah
  17. Cellulitis
  18. Kolesistitis akut
  19. Corpus alienum pada : a. Intracranial b. Leher b. Thorax c. Abdomen d. Anggota gerak e. Genitalia
  20. CVA bleeding
  21. Dislokasi persendian
  22. Drowning
  23. Flail chest
  24. Fraktur tulang kepala
  25. Gastrokikis
  26. Gigitan binatang / manusia
  27. Hanging
  28. Hemothorax dan pneumothorax
  29. Hematuria
  30. Hemoroid grade IV (dengan tanda strangulasi)
  31. Hernia incarcerata
  32. Hidrochepalus dengan TIK meningkat
  33. Hirschsprung disease
  34. Ileus Obstruksi
  35. Internal Bleeding
  36. Luka Bakar
  37. Luka terbuka daerah abdomen
  38. Luka terbuka daerah kepala
  39. Luka terbuka daerah thorax
  40. Meningokel / mielokel pecah
  41. Multiple trauma
  42. Omfalokel pecah
  43. Pankreatitis akut
  44. Patah tulang dengan dugaan cedera pembuluh darah
  45. Patah tulang iga multiple
  46. Patah tulang leher
  47. Patah tulang terbuka
  48. Patah tulang tertutup
  49. Periappendicular infiltrate
  50. Peritonitis generalisata
  51. Phlegmon dasar mulut
  52. Priapismus
  53. Prolaps rekti
  54. Rectal bleeding
  55. Ruptur otot dan tendon
  56. Strangulasi penis
  57. Tension pneumothoraks
  58. Tetanus generalisata
  59. Torsio testis
  60. Tracheo esophagus fistel
  61. Trauma tajam dan tumpul daerah leher
  62. Trauma tumpul abdomen
  63. Traumatik amputasi
  64. Tumor otak dengan penurunan kesadaran
  65. Unstable pelvis
  66. Urosepsi

C.     Bagian Kardiovaskuler

  1. Aritmia
  2. Aritmia dan shock
  3. Cor Pulmonale decompensata yang akut
  4. Edema paru akut
  5. Henti jantung
  6. Hipertensi berat dengan komplikasi (hipertensi enchephalopati, CVA)
  7. Infark Miokard dengan komplikasi (shock)
  8. Kelainan jantung bawaan dengan gangguan ABC (Airway Breathing Circulation)
  9. Kelainan katup jantung dengan gangguan ABC (airway Breathing Circulation)
  10. Krisis hipertensi
  11. Miokarditis dengan shock
  12. Nyeri dada
  13. Sesak nafas karena payah jantung
  14. Syncope karena penyakit jantung

D.    Bagian Kebidanan

  1. Abortus
  2. Distosia
  3. Eklampsia
  4. Kehamilan Ektopik Terganggu (KET)
  5. Perdarahan Antepartum
  6. Perdarahan Postpartum
  7. Inversio Uteri
  8. Febris Puerperalis
  9. Hyperemesis gravidarum dengan dehidrasi
  10. Persalinan kehamilan risiko tinggi dan atau persalinan dengan penyulit

E.     Bagian Mata

  1. Benda asing di kornea mata / kelopak mata
  2. Blenorrhoe/ Gonoblenorrhoe
  3. Dakriosistitis akut
  4. Endoftalmitis/panoftalmitis
  5. Glaukoma : a. Akut b. Sekunder
  6. Penurunan tajam penglihatan mendadak :
  7. a. Ablasio retina
  8. b. CRAO
  9. c. Vitreous bleeding Selulitis Orbita
  10. Semua kelainan kornea mata : a. Erosi b. Ulkus / abses c. Descematolis
  11. Semua trauma mata :
  12. a. Trauma tumpul
  13. b. Trauma fotoelektrik/ radiasi
  14. c. Trauma tajam/tajam tembus
  15. Trombosis sinus kavernosus
  16. Tumor Orbita dengan perdarahan
  17. Uveitis/ skleritis/iritasi
Baca juga :  Ketahui Jam Buka Kantor BPJS Kesehatan, Biar Tak Salah Jam

F.     Bagian Penyakit Dalam

  1. Demam berdarah dengue (DBD)
  2. Demam tifoid
  3. Difteri
  4. Disequilebrium pasca HD
  5. Gagal ginjal akut
  6. GEA dan dehidrasi
  7. Hematemesis melena
  8. Hematochezia
  9. Hipertensi maligna
  10. Keracunan makanan
  11. Keracunan obat
  12. Koma metabolic
  13. Leptospirosis
  14. Malaria
  15. Observasi shock

G.    Bagian THT

  1. Abses di bidang THT & kepala leher
  2. Benda asing laring/trakea/bronkus, dan benda asing tenggorokan
  3. Benda asing telinga dan hidung
  4. Disfagia
  5. Obstruksi jalan nafas atas grade II/ III Jackson
  6. Obstruksi jalan nafas atas grade IV Jackson
  7. Otalgia akut (apapun penyebabnya)
  8. Parese fasialis akut
  9. Perdarahan di bidang THT
  10. Syok karena kelainan di bidang THT
  11. Trauma (akut) di bidang THT ,Kepala dan Leher
  12. Tuli mendadak
  13. Vertigo (berat)

H.    Bagian Saraf

  1. Kejang
  2. Stroke

3.     Meningoencephalitis

I.       Bagian Paru-Paru

  1. Asma bronchitis moderate severe
  2. Aspirasi pneumonia
  3. Emboli paru
  4. Gagal nafas
  5. Injury paru
  6. Massive hemoptisis
  7. Massive pleural effusion
  8. Oedema paru non cardiogenic
  9. Open/closed pneumothorax
  10. P.P.O.M Exacerbasi akut
  11. Pneumonia sepsis
  12. Pneumothorax ventil
  13. Recurrent Hemoptoe
  14. Status Asmatikus
  15. Tenggelam

BPJS untuk Bayi yang Baru Lahir

Kondisi pertama, Perpres No. 82/2018, Pasal 16 ayat (1) menyebut, bayi baru lahir dari peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) wajib didaftarkan ke BPJS Kesehatan paling lama 28 hari sejak dilahirkan. Meskipun baru lahir, Bayi Anda tetap bisa mendapatkan manfaat jaminan kesehatan, termasuk biaya persalinan juga bisa di cover BPJS.

Adapun manfaat jaminan kesehatan yang bisa didapatkan adalah pelayanan kesehatan tingkat pertama (pemeriksaan, pengobatan, dan konsultasi medis; obat-obatan; transfusi darah; dan sebagainya); rawat jalan (pemeriksaan, pengobatan, dan konsultasi oleh dokter spesialis, rehabilitasi medis, pelayanan darah, dan lainnya); serta rawat inap.

Kondisi kedua, apabila bayi yang baru lahir tidak segera didaftarkan ke BPJS kesehatan maka biaya perawatan sampai obat-obatan si bayi ditanggun pribadi. Maka dari itu sangat penting bagi Anda yang memiliki bayi agar segera mendaftarkan bayi Anda ke BPJS kesehatan. begitupun dengan peserta JKN-KIS atau penerima bantuan iuran (PBI), sesuai Pasal 10 Perpres No. 82/2018, bayi yang baru dilahirkan otomatis aktif sebagai peserta PBI. Setelah didaftarkan ke BPJS Kesehatan, risiko kesehatan bayi Anda akan langsung di-cover BPJS.

Tentu saja sama dengan orang dewasa. Bayi yang baru lahir dan sudah terdaftar BPJS Kesehatan wajib membayar iuran bulanan yang dibayarkan oleh peserta atau pihak lain atas nama peserta pada saat mendaftar paling lama 28 hari sejak dilahirkan. Hal tersebut tertuang dalam bunyi Pasal 28 ayat (6). Jaminan kesehatan dan fasilitas kesehatan tidak akan berlaku jika hanya didaftarkan saja tanpa membayar iuran bulanan.

Sehingga aturan main dari penggunaan BPJS Kesehatan untuk bayi yang baru lahir berlaku jika orangtua adalah peserta JKN-KIS aktif, mendaftarkan bayinya yang baru lahir ke BPJS Kesehatan, sekaligus membayar iuran rutin. Selain itu, jika ibu dan bayinya telah pulang ke rumah dalam keadaan belum mendaftarkan dan membayar iuran untuk bayi yang baru lahir dalam jangka waktu 28 hari maka jaminan kesehatan tidak berlaku.

Misal ilustrasinya seperti ini. Bayi Anda lahir pada 3 Januari 2019, lalu Ibu dan Bayi sudah menjalani masa perawatan dan pulang ke rumah pada 7 Januari 2019. Di tanggal 12 Januari 2019 Anda mendaftar dan membayar iuran bayi.

Adapun syarat mendaftarkan BPJS Kesehatan bagi bayi yang baru lahir antara lain sebagai berikut:

1. Surat keterangan lahir dari bidan atau rumah sakit

2. KTP orang tua

3. Kartu Keluarga (KK) Asli

4. Kartu JKN-KIS atau BPJS Kesehatan orangtua

Cara mendaftarkan bayi yang baru lahir untuk mengikuti program BPJS Kesehatan sangat mudah, prosedurnya adalah sebagai berikut :

1. Datang ke kantor cabang atau kantor pusat BPJS Kesehatan

2. Melampirkan syarat atau dokumen di atas

3. Setelah mengurus, kartu langsung aktif saat itu.

Sekali lagi, orang tua yang baru saja melahirkan wajib mendaftarkan bayinya ke BPJS Kesehatan dalam waktu 3×24 jam atau sebelum pulang ke rumah agar jaminan BPJS Kesehatan bisa digunakan baik dalam hal  fasilitas maupun pelayanan kesehatan. Sebab jika baru mendaftar dan membayar iuran setelah pulang ke rumah, maka penjaminan BPJS Kesehatan tidak berlaku.

Add Comment

Leave a Comment